PEFINDO Turunkan Peringkat Bank BJB ke idAA-, Kualitas Kredit Menjadi Sorotan
BANDUNG,suaranews.co – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menurunkan peringkat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB/BJBR) dari idAA menjadi idAA-.
Penyesuaian serupa juga diberikan terhadap sejumlah instrumen utang yang diterbitkan perseroan.
Penurunan peringkat tersebut terutama mencerminkan tekanan berkelanjutan pada profil keuangan Bank BJB, khususnya kualitas aset.
Kendati demikian, PEFINDO tetap menetapkan prospek peringkat perusahaan pada level stabil.
Dalam rilis pemeringkatan yang dipublikasikan melalui laman resminya pada Minggu, 13 September 2026, PEFINDO menurunkan peringkat Obligasi Berkelanjutan I dan Obligasi Keberlanjutan Berkelanjutan I milik Bank BJB dari idAA menjadi idAA-.
Peringkat Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II, III, dan IV juga diturunkan dari idA+ menjadi idA.
Sementara itu, peringkat Surat Berharga Perpetual Berkelanjutan I berubah dari idA menjadi idA-.
“Penurunan peringkat mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap profil keuangan Bank, terutama kualitas aset,” tulis PEFINDO dalam rilis pemeringkatannya.
Rasio Kredit Bermasalah Mengalami Peningkatan
PEFINDO memperkirakan tekanan terhadap kualitas aset Bank BJB masih akan berlangsung dalam jangka pendek.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh berkurangnya transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah serta melemahnya kemampuan pembayaran debitur, terutama pada segmen kredit produktif.
Tekanan itu terlihat dari meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Pada Juni 2026, rasio NPL Bank BJB tercatat mencapai 3,3 persen, naik dari 2,8 persen pada Desember 2025 dan 2,2 persen pada Desember 2024.
Rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loans (SML) juga meningkat menjadi 4,3 persen pada Juni 2026.
Sebelumnya, rasio tersebut berada pada level 3,8 persen pada akhir 2025 dan 2,7 persen pada akhir 2024.
Pada periode yang sama, rasio pencadangan terhadap NPL tercatat sebesar 85,8 persen.
Angka itu lebih rendah dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai 91,6 persen, tetapi masih sedikit lebih tinggi daripada Desember 2024 sebesar 84,4 persen.
PEFINDO menilai penurunan cakupan pencadangan tersebut menunjukkan melemahnya perlindungan Bank BJB terhadap potensi kerugian ketika kualitas aset mengalami pemburukan.
Bank BJB Siapkan Penghapusbukuan Kredit Rp814 Miliar
Untuk menangani kredit bermasalah, Bank BJB merencanakan penghapusbukuan atau write-off kredit sebesar Rp814 miliar sepanjang 2026.
Perseroan juga memperkirakan dapat memulihkan kredit bermasalah senilai Rp280 miliar.
Namun, upaya tersebut diperkirakan belum langsung meredakan seluruh tekanan terhadap kualitas aset.
Dalam jangka pendek, PEFINDO memproyeksikan rasio NPL Bank BJB masih berada pada kisaran 2,8 persen hingga 3 persen.
Di tengah tekanan tersebut, PEFINDO tetap memberikan penilaian positif terhadap beberapa aspek fundamental perseroan.
“Peringkat mencerminkan posisi bisnis Bank BJB yang sangat kuat,” tulis PEFINDO.
Kekuatan tersebut ditopang oleh pasar captive di Jawa Barat dan Banten, tingkat permodalan yang sangat kuat, serta profil likuiditas yang dinilai sangat kuat.
Meski demikian, peringkat Bank BJB masih dibatasi oleh ketatnya persaingan di luar pasar captive dan tingginya NPL pada segmen kredit produktif.
Aset Bank BJB Tembus Rp228,25 Triliun
Berdasarkan data PEFINDO, total aset Bank BJB pada Juni 2026 mencapai Rp228,25 triliun. Total kredit bruto tercatat sebesar Rp140,37 triliun, sedangkan nilai ekuitas mencapai Rp19,77 triliun.
Rasio kecukupan modal berbasis risiko atau risk-weighted capital adequacy ratio berada pada level 18,7 persen.
Sementara itu, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga tercatat sebesar 87,2 persen.
Peringkat idAA- menunjukkan bahwa Bank BJB masih memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang dibandingkan perusahaan lain di Indonesia.
Namun, tanda minus menandakan posisi peringkat tersebut relatif lebih lemah dalam kategori idAA.
PEFINDO membuka peluang peningkatan peringkat apabila Bank BJB mampu memperkuat profil keuangannya secara substansial dan berkelanjutan, terutama melalui perbaikan kualitas aset.
Sebaliknya, peringkat berpotensi kembali diturunkan jika terjadi pelemahan material dan berkepanjangan pada profil bisnis, kualitas aset, permodalan, maupun profitabilitas perseroan.
Sumber Foto: Dokumentasi Bank BJB
Referensi/Sitasi: Artikel ini diolah secara editorial oleh suaranews.co
