November 7, 2026

Menjaga Nadi Kesenian Tradisional, Sanggar Sabda Tunggal Bertekad Lestarikan Wayang Golek di Era Modern

IMG-20261107-WA0034

PURWAKARTA, suaranews.co – Di tengah gempuran arus modernisasi dan pesatnya era globalisasi, keberadaan seni tradisional Wayang Golek kerap menghadapi tantangan berat. Meski demikian, komitmen untuk menjaga serta melestarikan warisan budaya leluhur tersebut tetap menyala kuat di Sanggar Seni Sabda Tunggal yang berlokasi di Kampung Bunder RT 019 RW 007, Desa Cibening, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta.

Tim redaksi suaranews.co yang meliput langsung ke lokasi pada Jumat (6/11/2026) mendapati denyut aktivitas latihan dan semangat pelestarian seni tradisional yang tiada henti. Sanggar ini menjadi salah satu benteng pertahanan seni Wayang Golek agar tidak tergerus oleh zaman.

Pemilik Sanggar Seni Sabda Tunggal, Reza Firmansyah, menyampaikan optimismenya terhadap masa depan kesenian ini. Ia berharap kesenian khas Jawa Barat tersebut dapat terus tumbuh dan sukses beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

“Wayang semoga terus berkembang, terus bertahan, dan semakin sukses di era globalisasi,” ujar Reza Firmansyah saat diwawancarai tim redaksi suaranews.co di Sanggar Seni Sabda Tunggal, Jumat (6/11).

Lebih lanjut, Reza menyoroti pentingnya keberpihakan dan perhatian dari pihak eksekutif maupun legislatif demi menjaga kelangsungan seni daerah. Ia menaruh harapan besar agar dorongan nyata dari pemerintah terus mengalir.

“Harapannya, mudah-mudahan dari pemerintah lebih mendukung dalam berbagai aspek pelestarian budaya, khususnya Wayang Golek,” tambahnya.

Tidak hanya berharap pada pemerintah, Reza juga memberikan dorongan moral bagi generasi muda yang tertarik mendalami seni pertunjukan wayang, khususnya profesi dalang. Menurutnya, menjadi seorang dalang memerlukan pembentukan karakter serta mentalitas yang tangguh.

“Pesan untuk anak muda yang mau belajar, terus semangat. Karena jadi dalang itu susah, harus memiliki mental dan jangan lelah untuk terus belajar dan melestarikan Wayang Golek,” tegas Reza mengakhiri perbincangan.

Tantangan pelestarian ini semakin terasa nyata di tengah maraknya hiburan digital yang memikat perhatian generasi milenial dan Gen Z. Banyak kesenian tradisional perlahan kehilangan panggung karena minimnya regenerasi seniman serta berkurangnya frekuensi pertunjukan di tingkat lokal. Kehadiran sanggar-sanggar independen seperti Sabda Tunggal pun menjadi pilar vital dalam menjaga agar api seni tutur Sunda ini tidak padam digilas roda zaman.

Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya memberikan apresiasi berupa simbolis semata, tetapi juga memfasilitasi ruang tampil dan bantuan sarana prasarana secara berkesinambungan. Integrasi seni budaya lokal ke dalam ekstrakurikuler sekolah hingga penyelenggaraan festival seni rutin dapat menjadi langkah konkret dalam mengenalkan keindahan Wayang Golek sejak dini. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan keaktifan para praktisi seni dinilai menjadi kunci utama keberlanjutan warisan takbenda ini.

Pada akhirnya, keberhasilan Wayang Golek untuk tetap relevan di era modern berada di tangan generasi penerus. Ketika anak-anak muda mau memegang cempala dan menghidupkan karakter-karakter kayu di atas panggung, Wayang Golek tak sekadar menjadi kenangan sejarah, melainkan identitas bangsa yang terus hidup dan dibanggakan di panggung internasional.