July 30, 2026

Mengubah Limbah Menjadi Nilai Ekonomi: Inovasi Pengolahan Serat Daun Nanas untuk Pemberdayaan Warga Kampung Cijoged

IMG_20260728_125153

PURWAKARTA, suaranews.co – Melimpahnya produksi buah nanas di Kabupaten Subang tidak hanya memperkuat julukannya sebagai “Kota Nanas”, tetapi juga menyisakan persoalan limbah daun dalam jumlah masif.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim akademisi hadir membawa solusi inovatif untuk menyulap limbah organik yang kerap terbuang sia-sia menjadi komoditas kerajinan bernilai tinggi.

Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), warga Kampung Cijoged, Desa Cikadu, Kabupaten Subang, kini didorong untuk mengoptimalkan potensi serat daun nanas guna membuka peluang usaha kreatif dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal.

Kabupaten Subang telah lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil nanas terbesar di Jawa Barat. Namun, pasca-musim panen, penumpukan limbah daun nanas kerap menjadi masalah lingkungan karena sebagian besar hanya dibiarkan membusuk atau dibakar.

Padahal, limbah serat alami ini menyimpan potensi ekonomi bernilai tambah jika dikelola dengan sentuhan teknologi dan kreativitas yang tepat.

Edukasi Potensi Bisnis dan Teknis Pengolahan Serat

Berdasarkan laporan pengabdian masyarakat yang dihimpun oleh tim redaksi suaranews.co, program pemberdayaan yang digagas oleh Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Wastukancana ini dijadwalkan berlangsung dari bulan Juli hingga Desember 2026.

Tahap awal yang dimulai pada Juli 2026 difokuskan pada pengenalan materi serta wawasan potensi bisnis agar masyarakat memahami prospek ekonomi dari limbah tersebut sebelum memasuki sesi pelatihan praktik pada Agustus 2026.

Dalam proses teknisnya, tim PkM menjelaskan bahwa daun nanas terlebih dahulu dimasukkan ke dalam mesin dekortikasi untuk memisahkan serat dari kulit serta jaringan daun.

Serat kasar yang dihasilkan kemudian dijemur hingga kadar airnya berkurang, lalu dihaluskan menggunakan mesin pelembut serat agar menghasilkan serat selulosa yang bersih, bertekstur halus, dan siap diolah menjadi berbagai produk kerajinan tangan.

Pentingnya Kemasan Produk dan Kolaborasi Lintas Sektor

Tidak hanya mengajarkan teknik pengolahan serat, program ini juga menekankan pentingnya strategi pengemasan dan branding.

Menurut tim pendamping, produk kerajinan yang dikemas rapi serta dilengkapi label merek yang menarik akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi, meningkatkan citra kualitas, serta lebih mudah memikat perhatian pembeli di pasar yang lebih luas.

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan di Kampung Cijoged ini mendapat apresiasi penuh dari warga dan tokoh setempat, termasuk Kepala Desa Kampung Cijoged, Bapak Herman.

Ketua Tim PkM, Dr. Irwan Suriaman, M.T., turut menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas sinergi yang terjalin dengan mitra industri ALFIBER yang dipimpin oleh Bapak Alan Sahroni, A.Md.

Program pengabdian ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia melalui nomor kontrak 268/C3/DT.05.00/PISN/2026 atau 1556/LL4/PG/2026 atau 324/KL/STT-WKN/PWK/V/2026.

 

Melalui edukasi dan pelatihan berkelanjutan ini, pemanfaatan limbah daun nanas diharapkan mampu menjadi stimulus baru bagi perekonomian warga Desa Cikadu, khususnya Kampung Cijoged.

Inovasi berbasis sumber daya lokal ini tidak hanya menyelesaikan permasalahan lingkungan, tetapi juga membuktikan bahwa limbah pertanian dapat diubah menjadi peluang ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Sumber Foto: Dokumentasi Kegiatan Tim PkM-PISN STT Wastukancana

Referensi/Sitasi: Artikel ini diolah secara editorial oleh suaranews.co