September 27, 2026

Majelis Rakyat Bahas Peran Media di Era Post-Truth, Dorong Literasi Kritis Masyarakat Purwakarta

IMG-20260926-WA0031

PURWAKARTA, suaranews.co – Derasnya arus informasi di media sosial membawa tantangan baru bagi masyarakat dalam membedakan fakta, opini, dan narasi yang sengaja dibentuk.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam forum Majelis Rakyat bertajuk “Peran Media di Era Post-Truth: Menghadapi Dinamika Sosial”.

Diskusi yang digelar di Nian Space, Jumat malam, 25 September 2026, itu mempertemukan sejumlah pegiat media dan pemerhati pemuda untuk membahas tanggung jawab media sekaligus pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi digital.

Kehadiran media pada era post-truth dinilai semakin penting karena informasi kini dapat tersebar luas dalam waktu singkat. Namun, kecepatan tersebut tidak selalu berjalan beriringan dengan ketepatan, keberimbangan, dan proses verifikasi fakta.

Dalam kondisi demikian, media tidak hanya dituntut menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga harus menjaga kredibilitas serta memastikan setiap informasi yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Hadirkan Perspektif Pegiat Media dan Pemerhati Pemuda

Forum Majelis Rakyat menghadirkan Ilham Fauzi, S.Pd. sebagai pemerhati pemuda Purwakarta, Firman Aji S. dari Intiporia, Taufik Imam dari Urang Purwakarta, serta Ahmad Farid dari Nyimpang.com.

Para narasumber hadir membawa sudut pandang berbeda mengenai dinamika media, perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi, serta tantangan menghadapi berbagai narasi yang berkembang di ruang digital.

Diskusi tersebut juga menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memahami fenomena post-truth, yakni keadaan ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan fakta objektif.

Literasi Digital Menjadi Benteng Masyarakat

Di tengah masifnya penggunaan media sosial, masyarakat perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan tidak terburu-buru menyebarkan suatu kabar sebelum memastikan kebenarannya.

Literasi digital menjadi salah satu benteng penting untuk mencegah masyarakat terjebak dalam informasi keliru, opini manipulatif, maupun narasi yang dapat memperuncing dinamika sosial.

Media juga mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan proses jurnalistik yang mengutamakan verifikasi, keberimbangan, akurasi, serta kepentingan publik.

Prinsip tersebut menjadi semakin relevan ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada proses pemeriksaan fakta.

Majelis Rakyat diselenggarakan secara terbuka tanpa biaya masuk.

Kehadiran forum tersebut diharapkan dapat memperluas ruang dialog dan memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat Purwakarta.

Melalui diskusi ini, Majelis Rakyat mendorong masyarakat agar lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

Kolaborasi antara media, komunitas, pemuda, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ruang digital yang lebih sehat serta berbasis fakta.

Sumber Foto: Dokumentasi Nian Space

Referensi/Sitasi: Artikel ini diolah secara editorial oleh suaranews.co