July 30, 2026

Meneladani Syaikh Baing Yusuf: Menjaga Marwah Purwakarta dan Benteng Moral Generasi Muda lewat Peringatan Haol ke-172

IMG-20260730-WA0130

PURWAKARTA, suaranews.co – Peringatan Haol ke-172 Syaikh Baing Yusuf (K.H.R. Muhammad Yusuf bin R.A. Jayanegara) menjadi momentum krusial bagi masyarakat Purwakarta untuk kembali mengenang sanad keilmuan sang Mahaguru Ulama Nusantara Abad 19.

Kegiatan tahunan ini tidak hanya diramaikan melalui kampanye Twibbon di media sosial sebagai edukasi sejarah, tetapi juga menjadi panggilan terbuka bagi masyarakat untuk hadir langsung dalam peringatan syi’ar Islam tersebut.

Di tengah maraknya krisis moral dan kejahatan remaja di bawah umur yang belakangan ini menyita perhatian nasional di Purwakarta, peninggalan keilmuan dan keteladanan Syaikh Baing Yusuf diharapkan mampu menjadi benteng karakter serta kompas moral bagi generasi penerus bangsa.

Masyarakat dari berbagai daerah terus mengalirkan penghormatan kepada sosok ulama besar yang pernah menjadikan Purwakarta sebagai pusat penyebaran Islam di Nusantara.

Kedudukan sejarah Syaikh Baing Yusuf sangat vital, mengingat beliau merupakan guru dari Syekh Nawawi Al-Bantani tokoh ulama dunia yang kemudian mendidik pilar-pilar Islam Nusantara seperti KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama).

Pentingnya Edukasi Sejarah dan Penanaman Keteladanan Sejak Dini

Pendiri BELA PURWAKARTA (BELPUR), Aa Komara Abu El-Dzikko, yang didampingi oleh Humas BELPUR Sahril Sidiq Al-Betsuni, menyampaikan pandangannya mengenai urgensi pelaksanaan Haol Syaikh Baing Yusuf ke-172.

Agenda rutin ini dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu, 2 Agustus 2026, mulai pukul 07.00 WIB hingga 11.30 WIB di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta.

“Tidak hanya menyemarakan Haol Syaikh Baing Yusuf ke-172 dengan Twibbon sebagai sarana edukasi kesejarahan, lebih dari itu, mari hadir langsung dalam pelaksanaannya. Ajak serta anak-anak kita. Sudah waktunya generasi penerus ini diakrabkan dengan sosok-sosok teladan yang terbukti memiliki jasa besar untuk Purwakarta dan syi’ar Islam,” ujar Aa Komara.

Beliau menegaskan bahwa tokoh-tokoh seperti Syekh Baing Yusuf, Dalem Sholawat, hingga Mama Sempur Plered adalah figur sejarah nyata yang warisan keilmuannya masih memberikan kebermanfaatan nyata hingga hari ini.

Refleksi Moral Remaja dan Menjaga Marwah Kota Santri

Pentingnya mengenalkan figur keteladanan ini bertaut erat dengan dinamika sosial masyarakat Purwakarta saat ini.

Maraknya tindak kriminalitas yang melibatkan anak di bawah umur-seperti insiden pembunuhan petugas keamanan di kawasan Jatiluhur serta penganiayaan kakek oleh cucunya sendiri-menjadi alarm keras akan ancaman dekadensi moral di kalangan remaja.

Melalui peringatan Haol ke-172 ini, masyarakat diajak untuk menjadikan sejarah sebagai ruang refleksi bersama.

Pembinaan generasi muda serta kelestarian sejarah ketokohan ulama merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen warga. Langkah ini penting agar predikat Purwakarta sebagai Kota Santri tetap terjaga marwahnya dan tidak tercoreng oleh aksi-aksi destruktif generasi mudanya.

Sumber Foto: Aa Komara

Referensi/Sitasi: Artikel ini diolah secara editorial oleh suaranews.co