Dari Jalanan Menuju Kekuasaan: Ketika Idealisme Aktivis Diuji Jabatan
PURWAKARTA,suaranews.co – Perjalanan seorang aktivis tidak selalu berakhir di jalanan. Sebagian melanjutkan perjuangan dengan memasuki pemerintahan, parlemen, organisasi, maupun lingkaran strategis kekuasaan. Perpindahan itu seharusnya membuka jalan bagi lahirnya perubahan dari dalam.
Namun, kekuasaan juga membawa ujian yang tidak sederhana. Idealisme yang dahulu diteriakkan melalui pengeras suara dapat perlahan berubah menjadi kompromi, pragmatisme, bahkan oportunisme ketika jabatan mulai menawarkan kenyamanan.
Ada pola yang berulang dalam perjalanan sebagian aktivis. Ketika muda, mereka tampil sebagai sosok idealis. Memasuki usia dewasa, pendekatannya menjadi lebih realistis. Setelah memperoleh jabatan, pertimbangannya mulai pragmatis. Pada tahap tertentu, sebagian bahkan berubah menjadi oportunis.
Pola tersebut tentu tidak berlaku bagi semua aktivis. Meski demikian, kemunculannya yang terus berulang layak menjadi bahan refleksi publik.
Dahulu, mereka berdiri di barisan depan sambil membawa poster dan menyuarakan ketidakadilan. Pemerintah dikritik, kebijakan dipersoalkan, dan pejabat diminta mempertanggungjawabkan keputusan yang dianggap merugikan masyarakat.
Pada masa itu, rakyat ditempatkan sebagai alasan perjuangan. Keadilan menjadi tujuan, sedangkan perubahan dijadikan cita-cita bersama.
Idealisme yang Berhadapan dengan Kenyataan
Mempertahankan idealisme pada usia muda mungkin terasa lebih mudah. Belum banyak kepentingan yang harus dijaga, tanggungan yang harus dipenuhi, maupun pihak yang perlu diakomodasi.
Aktivis muda memiliki keberanian untuk menolak kebijakan, ketidakadilan, kompromi, bahkan kekuasaan itu sendiri. Sikap tersebut tampak sederhana ketika kehidupan belum dipenuhi berbagai kepentingan pribadi dan tanggung jawab keluarga.
Namun, perjalanan waktu membawa tantangan baru. Usia bertambah, kebutuhan meningkat, keluarga hadir, dan masa depan anak mulai dipikirkan.
Kehidupan tidak dapat sepenuhnya ditopang oleh tepuk tangan massa ataupun semangat yang diteriakkan dalam demonstrasi.
Pada titik itulah idealisme mulai berhadapan langsung dengan kenyataan. Kompromi perlahan dianggap lebih masuk akal dibandingkan perlawanan.
Menjadi realistis tentu bukan sebuah kesalahan. Aktivis juga manusia yang harus bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, dan merencanakan masa depan.
Persoalan baru muncul ketika realisme digunakan sebagai pembenaran untuk menerima segala sesuatu yang dahulu ditentang.
Kebijakan yang sebelumnya disebut tidak berpihak kepada rakyat kemudian dijelaskan sebagai keadaan yang harus dipahami. Ketidakadilan yang dahulu dilawan mulai dipandang sebagai persoalan yang harus dilihat dari berbagai sisi.
Tuntutan transparansi pun dapat berubah menjadi permintaan agar publik bersabar.
Perubahan bahasa sering kali mencerminkan perubahan posisi. Ketika berada di luar pemerintahan, kritik dipandang sebagai keberanian. Namun, setelah berada di dalam lingkaran kekuasaan, kritik serupa terkadang dianggap sebagai gangguan.
Kursi Kekuasaan dan Ujian Konsistensi
Fase paling menentukan hadir ketika seorang aktivis mendapatkan jabatan, baik sebagai pejabat, anggota legislatif, pengurus organisasi, staf khusus, komisaris, konsultan, maupun posisi strategis lainnya.
Orang yang dahulu mendatangi kantor pemerintahan untuk menyampaikan tuntutan kini memasuki gedung yang sama melalui pintu depan menggunakan kartu akses. Mereka yang sebelumnya menunggu pejabat kini justru ditunggu banyak orang.
Poster bertuliskan perlawanan berganti menjadi pidato tentang kolaborasi.
Masuk ke dalam sistem bukanlah sesuatu yang keliru. Banyak perubahan memang membutuhkan kehadiran orang-orang berintegritas di ruang pengambilan keputusan.
Aktivis yang memahami persoalan masyarakat bahkan dapat membawa perspektif penting ke dalam pemerintahan.
Namun, masuk ke dalam sistem tidak selalu berarti berhasil mengubahnya. Dalam beberapa kasus, justru sistemlah yang mengubah orang-orang yang masuk ke dalamnya.
Ironisnya, sebagian orang yang dahulu ingin memperbaiki atau melawan sistem lama akhirnya tampil sebagai penjaga paling setia dari sistem yang pernah mereka kritik.
Pragmatisme yang Dibungkus Istilah Elegan
Perubahan sikap biasanya disertai berbagai istilah pembenaran. Mula-mula disebut kompromi, kemudian strategi, komunikasi politik, pembangunan relasi, hingga akhirnya dirangkum dalam istilah “dinamika”.
Dalam politik dan kekuasaan, hampir setiap perubahan sikap dapat dijelaskan dengan alasan mengikuti dinamika.
Padahal, persoalannya terkadang jauh lebih sederhana: dahulu mengkritik karena belum memperoleh posisi, kemudian mendukung setelah mendapatkan tempat.
Kebijakan yang sebelumnya dianggap buruk berubah menjadi program yang disebut belum sempurna, tetapi harus didukung.
Tokoh yang dahulu dipandang sebagai bagian dari masalah dapat berubah menjadi rekan perjuangan setelah kepentingan mereka bertemu.
Jabatan memiliki kemampuan besar untuk mengubah relasi dan cara pandang. Musuh dapat menjadi kawan, kritik berubah menjadi masukan, sedangkan idealisme perlahan tersimpan sebagai kenangan masa lalu.
Ketika Perjuangan Berubah Menjadi Tangga
Bagian paling satir dari perjalanan sebagian aktivis muncul ketika perjuangan tidak lagi diposisikan sebagai tujuan.
Perjuangan mula-mula menjadi kendaraan, kemudian berkembang menjadi jaringan dan modal politik. Pada akhirnya, semua itu berubah menjadi tangga untuk mencapai tempat yang dahulu mereka kritik dari bawah.
Sebagian aktivis sangat piawai berbicara mengenai kepentingan rakyat ketika belum memiliki kekuasaan. Namun, setelah menduduki jabatan, rakyat hanya hadir sebagai bagian dari pidato.
Kesejahteraan tetap dibicarakan, keadilan terus dijanjikan, dan nama rakyat selalu disebut. Akan tetapi, masyarakat tidak lagi menjadi pusat perjuangan. Mereka hanya menjadi dekorasi dalam sambutan, materi kampanye, dan narasi pencitraan.
Tidak jarang masa lalu sebagai aktivis juga digunakan seperti sertifikat moral. Kalimat “dulu saya juga aktivis” disampaikan seolah-olah pengalaman tersebut menjadi jaminan bahwa setiap keputusan hari ini pasti benar.
Padahal, pernah menjadi aktivis tidak membuat seseorang kebal terhadap godaan kekuasaan. Pernah melawan ketidakadilan juga tidak menjamin seseorang tidak akan melakukan atau membiarkan ketidakadilan.
Begitu pula dengan pengalaman berdiri bersama rakyat. Catatan masa lalu tersebut tidak otomatis memastikan seseorang akan terus membela kepentingan masyarakat setelah memperoleh jabatan.
Saat Arah Angin Menjadi Pedoman
Oportunisme menjadi puncak perubahan ketika seseorang tidak lagi mempertimbangkan mana yang benar, tetapi lebih sibuk menghitung mana yang paling menguntungkan.
Pertanyaan mengenai siapa yang perlu dibela berganti menjadi pencarian tentang siapa yang sedang berkuasa. Prinsip tidak lagi diperjuangkan secara konsisten karena setiap keputusan ditentukan oleh peluang yang tersedia.
Hari ini seseorang dapat berada di sebelah kiri, besok berpindah ke tengah, lalu lusa berdiri di sebelah kanan. Perpindahan tersebut bukan selalu lahir dari proses intelektual atau evaluasi pemikiran, melainkan karena arah politik telah berubah.
Bagi seorang oportunis, konsistensi bukanlah nilai utama. Hal terpenting adalah tetap memperoleh tempat di dalam lingkaran kekuasaan.
Bahasa perjuangan biasanya tetap dipertahankan. Istilah rakyat, keadilan, demokrasi, dan perubahan masih terdengar dalam setiap pernyataan. Hanya saja, kata-kata tersebut lebih sering berfungsi sebagai kosmetik politik: indah didengar, tetapi kehilangan makna substantifnya.
Tidak Semua Aktivis Kehilangan Arah
Menggeneralisasi seluruh aktivis tentu tidak adil. Masih banyak aktivis yang mampu menjaga nilai perjuangan meskipun telah memasuki pemerintahan atau menduduki jabatan strategis.
Mereka mungkin mengubah metode, tetapi tidak mengganti arah perjuangan. Mereka memahami kenyataan tanpa meninggalkan prinsip, melakukan kompromi tanpa menjual nilai, dan masuk ke dalam sistem tanpa larut dalam keburukannya.
Kelompok inilah yang justru menghadapi ujian paling berat.
Mempertahankan idealisme ketika belum memiliki apa-apa mungkin relatif mudah. Ujian sesungguhnya hadir ketika seseorang telah memiliki kekuasaan, jabatan, fasilitas, jaringan, serta kesempatan untuk memperkaya diri.
Berdiri di jalan dan menyampaikan kritik membutuhkan keberanian. Namun, mengatakan “tidak” terhadap kepentingan tertentu ketika berada di ruang kekuasaan membutuhkan keberanian sekaligus karakter.
Kekuasaan Mengubah atau Membuka Wajah Asli?
Satu pertanyaan penting kemudian muncul: apakah kekuasaan benar-benar mengubah seseorang, atau justru membuka karakter yang selama ini tersembunyi?
Seseorang mungkin terlihat idealis karena belum pernah dihadapkan pada pilihan langsung antara prinsip dan kepentingan. Ketika kesempatan datang, barulah terlihat keputusan yang sesungguhnya.
Hidup dalam kekurangan tidak otomatis membuat seseorang antikorupsi. Tidak memiliki jabatan juga tidak selalu berarti menolak kekuasaan.
Demikian pula, menyandang status aktivis tidak otomatis menempatkan seseorang pada tingkat moral yang lebih tinggi.
Terkadang seseorang hanya belum memperoleh kesempatan untuk menunjukkan pilihan sebenarnya.
Karena itu, ukuran seorang aktivis tidak cukup dilihat dari seberapa keras ia menyampaikan kritik di jalan.
Ukuran yang lebih penting adalah sikapnya ketika memegang kekuasaan.
Bukan hanya ketika mengkritik anggaran, tetapi saat diberi kewenangan mengelolanya.
Bukan sebatas menuntut keterbukaan, melainkan ketika publik meminta transparansi darinya. Bukan hanya keberanian mengkritik pejabat, tetapi kesediaan menerima kritik saat dirinya menjadi pejabat.
Di sanalah seluruh narasi perjuangan memperoleh ujian yang sesungguhnya.
Perjalanan dari idealisme menuju realisme tidak harus berakhir dalam pragmatisme dan oportunisme. Menjadi dewasa bukan alasan untuk kehilangan nilai, sebagaimana memiliki keluarga bukan pembenaran untuk menjual prinsip.
Menduduki jabatan juga tidak berarti harus membungkam kritik, sementara masuk ke dalam kekuasaan tidak seharusnya membuat seseorang lupa terhadap rakyat yang dahulu diperjuangkannya.
Hal paling menyedihkan bukanlah ketika seorang aktivis berhenti berdemo, melainkan ketika ia lupa alasan yang pernah membawanya turun ke jalan.
Pada akhirnya, setiap mantan aktivis yang telah duduk nyaman di kursi kekuasaan perlu mengajukan satu pertanyaan kepada dirinya sendiri:
“Apakah saya benar-benar berhasil mengubah sistem, atau justru sistem yang berhasil mengubah saya?”
Sumber Foto: Ilustrasi AI/suaranews.co
Referensi/Sitasi: Artikel opini ini disusun dan diolah secara editorial oleh suaranews.co
